Pentingnya Entomologi Bagi Petani

Oleh : Ahmad Ibnu Fattah An-Nawawi

Jurusan : Hama Dan Penyakit Tumbuhan

Entomologi merupakan cabang ilmu biologi yang fokus mempelajari serangga. Entomologi berasal dari kata entomon yang berarti serangga dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Tujuan utama mempelajari serangga adalah untuk mengetahui hubungan yang terjalin antara serangga dan manusia. Hal ini tak dapat dipungkiri karena kehidupan sehari – hari manusia tak lepas dari hubungan dengan serangga. Dewasa ini serangga telah banyak dikaitkan dengan berbagai aspek kehidupan, misalnya kedokteran/kesehatan, kehutanan, perkotaan, pertanian, forensik, dan lainnya. Entomologi dibagi menjadi dua yakni entomologi dasar dan entomologi terapan. Entomologi dasar merupakan cabang dari entomologi yang lebih memfokuskan pada kajian serangga secara umum. Beberapa bidang yang dicakup entomologi dasar yakni, morfologi serangga, fisiologi dan anatomi serangga, perilaku serangga, patologi serangga, ekologi serangga dan taksonomi serangga. Sedangkan entomoligi terapan lebih memfokuskan kepada peranan serangga dalam aspek kehidupan terkait, misalnya entomologi kedokteran mengkaji tentang peran serangga dalam dunia kesehatan, entomologi pertanian mengkaji tentang peran serangga dalam dunia pertanian, dan lainnya.

Pertanian dan serangga seakan menjadi masalah klasik yang tidak akan ada habisnya, bahkan hingga saat ini masih terus diperdebatkan. Dalam dunia pertanian, serangga dapat menjadi lawan dan kawan petani. Dalam satu sisi, serangga menjadi hama perusak tanaman budidaya yang dapat menyebabkan kerugian hingga gagal panen. Namun di sisi lain serangga dapat membantu kelancaran kegiatan pertanian seperti kupu – kupu (Appias libythea) sebagai pollinator, belalang sembah (ordo Mantodea) sebagai musuh alami bagi hama – hama tanaman. Beberapa serangga seperi lebah madu (Apis spp) dan ulat sutera (Bombyx mori) dapat menjadi lahan usaha yang potensial. Oleh karena perannya yang sangat krusial, maka seharusnya pengetahuan tentang serangga kepada petani lebih diperhatikan.

Pengetahuan akan serangga yang dimiliki oleh petani umumnya sangatlah minim, kebanyakan petani hanya menggunakan pestisida sebagai solusi pengendalian hama dan penyakit (Thamrin dan Asikin, 2002). Dewasa ini manusia lebih menyukai hal – hal yang instan tanpa memikirkan efek yang ditimbulkan. Demikian pula dalam hal pertanian, para petani Indonesia cenderung lebih memilih cara pembudidayaan yang praktis nan murah. Hal ini dikarenakan usia petani Indonesia yang kebanyakan berada di atas 40 tahun (Sensus BPS 2013), dan keterampilan dalam bercocok tanam hanya diperoleh secara turun temurun sedangkan permasalahan serangan hama dari tahun ke tahun selalu berubah. Dinamika serangga hama tersebut tentunya tidak dapat diatasi oleh pengalaman saja yang belum tentu apa yang dialami sama. Hal ini ditambah dengan realita bahwa petani Indonesia rata – rata berpendidikan rendah. Dampak dari ketimpangan masalah ini tentunya pada tindakan yang dilakukan ketika ada serangan hama. Petani seakan tidak punya pilihan lain selain menggunakan pestisida kimiawi.

Pengetahuan tentang serangga menjadi penting karena dengan mempelajari sumber masalah, kita dapat mengetahui solusi yang tepat. Akar masalah dalam hal ini serangga perlu dikenali spesies apa saja yang potensial menjadi hama tanaman budidaya. Misal di Desa Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik hama yang sering menyerang adalah belalang (Dissosteira carolina). Sedangkan di Kecamatan Cerme hama yang menyerang adalah wereng coklat (Nilaparvata lugens). Tentunya pengendalian yang akan diterapkan pun berbeda. Konsep pengenalan serangga selanjutnya akan dipakai dalam sistem pengendalian hama terpadu (PHT). Sistem PHT tidak akan dapat diterapkan secara maksimal apabila pengetahuan tentang penyebabnya (serangga) sendiri kurang dipahami.

Konsep PHT sendiri adalah mekanisme pengendalian hama yang didasarkan pada mengendalikan populasi hama, bukan memberantas. Konsep PHT memmerlukan pengetahuan dasar terlebih dahulu mengenai objek yang akan dikendalikan. Pengetahuan dasar tersebut dapat meliputi jenis, makanan, siklus hidup, habitat, dan musuh alami. Dengan mengetahui jenis hama, maka langkah pengendalian selanjutnya dapat ditentukan. Dengan mengetahui makanan, siklus hidup dan habitat dari hama tersebut, maka dapat dilakukan sistem rotasi tanaman budidaya. Dengan demikian hama tidak akan mempunyai tempat tinggal dan makanan yang artinya siklus hidup hama tersebut dapat dihentikan.

Indonesia selama sepuluh tahun (1989–1999) telah berhasil melatih lebih dari satu juta petani melalui program Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) khususnya untuk tanaman padi dan tanaman pangan lainnya. Keberhasilan program pelatihan petani secara partisipatori di Indonesia telah diakui dunia sebagai salah satu pelopor pendekatan atau paradigma PHT Ekologi. Kegiatan tindak lanjut yang perlu dilakukan adalah melembagakan konsep PHT di lembaga-lembaga pemerintah, dunia industri dan masyarakat. Karena adanya pergeseran antara paradigma PHT Ekologi dan PHT Teknologi yang secara formal dan legal masih diikuti oleh pemerintah dan dunia industri, pelembagaan PHT di Indonesia masih memerlukan usaha dan dana yang cukup besar dan waktu yang lama (Untung, 2003).

Meskipun telah berhasil menerjunkan petani – petani yang handal dalam PHT, nyatanya setelah beberapa tahun pendampingan, para petani kembali ke arah konvensional, yakni penggunaan pestisida (Winarto, 2006). Bahkan ada pula yang sampai mengoplos obat dengan harapan menekan biaya pengeluaran. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan dasar dan prinsip – prinsip PHT yang digalakkan saat itu. Selain itu, para penyuluh yang bertugas mendidik para petani juga harus dibekali pengetahuan yang cukup dan harus siap selain melakukan pendampingan, juga melakukan kontrol terhadap petani – petani yang mereka dampingi. Pengetahuan – pengetahuan dasar seperti pengkajian sumber masalah, dalam hal ini serangan hama sangat perlu disampaikan lebih mendalam. Dalam hal pendampingan, para penyuluh juga harus menyampaikan hal mengenai pengetahuan serangga. Jangan sampai para penyuluh menganggap remeh pengetahuan – pengetahuan dasar seperti entomologi, dan jangan sampai pula mereka menganggap tidak perlu untuk disampaikan. Ini banyak sekali terjadi di kalangan penyuluh tingkat desa. Sebagai contoh, Desa Melirang memiliki kantor penyuluhan pertanian, namun sampai saat ini belum dirasakan manfaatnya. Paradigma semua serba praktis dan instan kiranya harus dihilangkan dari pikiran baik para penyuluh maupun petani. Semua demi kelanggengan dan keberlanjutan suatu sistem.

Berbagai manfaat pengetahuan entomologi dalam bidang pertanian telah jelas, mulai dari sebatas ilmu sampai pada sistem pengendalian yang efektif. Salah satu contoh konkrit adalah dengan pembuatan jebakan untuk lalat buah (Bactrocera sp) dengan cara memikat lalat jantan menggunakan petrogenol sehingga lalat jantan akan terperangkap ke dalam wadah yang telah disediakan. Cara ini efektif karena memaksa lalat betina agar tidak dapat bertelur dan perangkap yang dibuat tidak berpengaruh pada tanaman yang dibudidayakan. Selain itu, secara personal petani menjadi lebih tau dan menimbulkan minat belajar yang lebih. Terlebih lagi beberapa serangga bernilai ekonomis, sehingga dapat menjadi nilai tambah bagi petani. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan peran pemerintah dalam menggalakkan entomologi kepada petani. Karena sebuah sistem akan berhasil diterapkan apabila semua komponen yang ada di dalamnya bekerja sama dan penerapannya dilakukan secara berkelanjutan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *